Kisah Mbah Niah Penjual Rujak Cingur yang Berusia 80 Tahun

Beritasantai.com - Setelah beberapa waktu lalu viral dengan rujak cingur Mbak Mella yang berharga 60k. Kini di Surabaya muncul lagi cerita sosok Mbah Niah nenek penjual rujak cingur yang sudah berumur  80 tahun, tetapi masih semangat berjualan.


Mbah Niah, begitu pelanggannya biasa menyebut, nenek tua renta yang berjualan di Jl. KH Mas Mansyur 66. Mbah Niah sendiri berasal dari Desa Gungguh, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan, Madura. Kira-kira usianya sudah mencapai lebih dari 80 tahun. Namun yang membuat viral dikalangan netizen adalah penjual rujak cingur ini tetap tangguh dan kuat melayani pembeli.

Tempat jualannya bukan di warung, namun tempat sederhana di pelataran toko. Hanya bermodalkan meja, Mbah Niah menjual barang dagangannya dari sore hari hingga sekitar jam 2 pagi. Untuk tubuh yang sudah renta, tentunya sangat mengagumkan. Konon katanya, ia bekerja keras setelah toko tutup demi memenuhi kebutuhan pribadi. Selain untuk membayar rumah kontrakan, wanita yang tidak memiliki anak ini juga harus merawat suaminya yang sedang sakit.

Rujak Mbah Niah sendiri layaknya rujak khas di Madura. Meski rujaknya sangat sederhana, namun rasanya sangat nikmat. Ulekan dari tangannya memang tak sekuat dulu, tapi kamu masih bisa merasakan sensasinya rujak khas Madura. Seporsi rujak Mbah Niah terdiri dari timur, krai, bengkuang, nanas, kedondong, kecambah, hingga lontong. Citarasanya enak, dengan rasa petis yang menggugah selera. Selain itu, kamu juga bisa memesan lontong mie buatan Mbah Niah.

Saat ditanya sejak kapan berjualan, beliau menjawab “Saya sudah lama berjualan di sini nak sejak zamannya pak Karno (Ir Soekarno, presiden pertama RI). Saat itu harga rujak masih Rp50 rupiah,” terang Mbah Ni’a sembari mengulek kacang dan petis untuk bumbu rujak.

Menurut Mbah Ni’a, dirinya tetap berjualan meski usianya sudah tidak muda lagi karena sang suami, Muhammad (90), sudah tidak bisa bekerja sebagai penarik becak. Suaminya juga sering sakit.

Mbah Niah mengaku untuk saat ini masih belum ada keinginan berada di kampung. Walaupun oleh kerabatnya diminta pulang kampung.

“Sama kerabat disuruh pulang, tapi kami tidak mau. Saya tidak mempunyai anak dan saudara aku sudah meninggal semua,” ungkapnya.

Sedangkan penghasilan dari menjual rujak cingur dan lontong mie dalam semalam tidak pasti. Terkadang bisa membawa pulang Rp100 ribu, namun tidak jarang hanya dapat uang Rp2 ribu. Karena tidak ada orang yang membeli rujak dan lontong mie sama sekali, cuma ada orang yang membeli krupuk. Biasanya itu terjadi ketika hujan. Jika sudah begitu, aku terpaksa berhutang pada orang jualan sate untuk ongkos becak saat pulang,” paparnya.

Mbah Niah terpaksa naik becak karena rumahnya dengan lokasi jualan rujak cukup jauh. Untuk ongkos becak sekali naik Rp10 ribu, bila pulang pergi berarti Rp20 ribu untuk ongkos becak.

“Saya jualan rujak buka mulai jam 5 sore sampai pukul 2 dini hari dan buka setiap hari. Selama badan masih bisa aku akan tetap berjualan. Karena saya tidak ingin menjadi tanggungan atau beban kerabat aku yang ada di Madura,” tukas nenek yang kulitnya sudah terlihat keriput itu. ‪

Ternyata Mbah Niah sudah lama berjualan rujak cingur lho! Bahkan ketika pemerintahan presiden pertama, Beliau sudah berjualan kuliner enak ini dengan harga 1-100 perak. Hingga kini, jualan Mbah Niah masih murah meriah. Seporsi rujak Mbah Niah hanya Rp10.000. Selain murah meriah tentu rasanya juga nikmat.

Jika kamu mencari makanan di malam hari, rujak racikan Mbah Niah ini bisa jadi rekomendasi kuliner kamu.